MAKNA “ILAH”

Makna ilah yang sebenarnya dapat kita fahami dari kata akar yang membentuknya. Ilah terbentuk dari kata kerja aliha. Dalam bahasa Arab alihahu bererti:

1.Merasa tenteram kepadanya sehingga ia asyik dengannya dan engan meninggalkannya
2.Berlindung dengannya kerana kagum kepada kekuatan, kehebatan dan kekuasaanya.
3.Rindu kepadanya kerana keberadaanya memberikan rasa tenteram dan aman sehingga ia berusaha untuk selalu dekat denganya.
4.Sangat mencintainya dengan hati yang tulus kerana tiga hal di atas. Apabila keempat-empat perkara ini diketahui, dirasakan dan diyakini maka ia akan:
5.Menyembahnya dan siap mengorbankan apa sahaja kerananya demi cinta yang mententeramkan, melindungi dan selalu ia rindukan.

Seseorang mengilahkan (mempertuhankan) sesuatu kerana ia merasa bahawa sesuatu itu sempurna, hebat dan mententeramkannya kerana memberikan jaminan dan perlindungan. Kerana itu ia menjadi sangat mencintainya, sangat merendahkan diri kepadanya dan sangat tunduk serta patuh kepadanya. Hal ini membawa kepada pengabdian kepadanya. Justeru, secara umumnya aliha bermaksud pengabdian kepadanya.

Berdasarkan maksud aliha di atas, ilah adalah:
1.Sesuatu yang diharapkan kerana ia memiliki kekuasaan memberi manfaat dan mengabulkan permintaan orang yang berharap kepadanya.
2.Sesuatu yang ditakuti kerana ia akan murka dan menyiksa sesuatu yang membangkang perintahnya.
3.Sesuatu yang diikuti kerana petunjuknya adalah benar dan menjamin keselamatan.
4.Sesuatu yang dicintai kerana rahmat dan cintanya amat besar dicurahkan kepada hamba-hambanya. Pemberiannya tidak pernah terhenti.
5.Kerana itu, maka ia adalah sesuatu yang disembah.

Kerana sifat-sifat kesempurnaannya itu maka ia adalah sesuatu yang berhak mendapat kesetiaan dan ketaatan, ia adalah pemegang kekuasaan. Islam memandang bahawa hanya Allah sahaja satu-satunya yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan tersebut. Memperlakukan selain Allah sebagaimana perlakuan yang diberikan kepada Allah adalah kemusyrikin yang sangat bodoh dan menjerumuskan manusia kelembah kehancuran.
Allah sebagai satu-satunya Zat yang berhak diharapkan.

Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(94:7-8)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(2:186)

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (40:60)

Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.Dan (ingatlah kisah) Maryam yang Telah memelihara kehormatannya, lalu kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari kami dan kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.(21:90-91)

Allah sebagai satu-satunya Zat yang berhak ditakuti

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka Telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (9:13)

Allah sebagai satu-satunya zat yang berhak ditaati


Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (51:50)

Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya Aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk kepadaku. (37:99)

Allah sebagai satu-satunya Zat yang berhak dicintai lebih dari yang lain


Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (2:165)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (8:2)

Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (9:24)


Justeru Allah s.w.t adalah satu-satunya Zat yang berhak disembah kerana Dialah pemilik segala kesetiaan dan ketaatan serta pemilik tunggal kekuasaan.

Allah sebagai pemilik segala kesetiaan, ketaatan dan pemilik tunggal kekuasaan. Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (16:36)

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (2:21)

Sesungguhnya Pelindungku ialahlah yang Telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan dia melindungi orang-orang yang saleh. (7:196)

Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (2:257)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy . dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (7:54)

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (5:44)

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (5:45)

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik . (5:47)

ADA APA PADA NAMA?

Dari Abu Usamah r.a berkata,
“Seorang lelaki datang kepada rasulullah s.a.w dan berkata, “Bagaimana pendapatmu mengenai seorang lelaki yang berperang untuk mendapatkan pahala dan nama, apa yang dia dapat?

Nabi menjawab, “Dia tidak mendapat apa-apa.” Lelaki itu mengulang soalan tersebut tiga kali, dan Rasulullah selalu menjawab, “Dia tidak mendapat apa-apa.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesunggguhnya Allah tidak menerima amal kecuali apa yang ikhlas (keranannya) dan dimaksudkan semata-mata demi wajahNya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’I dengan sanad yang jayyid) Ikhlas adalah melupakan pandangan manusia sehingga kita hanya melihat Sang Pencipta sahaja. Orang yang menangis kerana takutkan Allah, memberikan infak, atau mengerjakan solat di tengah ribuan bahkan jutaan manusia akan tetap ikhlas, kerana ia tidakmemerlukan pandangan manusia. Ia hanya memerlukan pandangan Allah ‘Azzawajalla sahaja. Cukuplah untuk kita firman Allah:

“Dan cukuplah Allah sebagai saksi..”(Al-Fath:28)

Terdapat juga manusia yg beramal supaya namanya disebut-sebut. Sedangkan nama itu adalah perkara yg akan luput diingatan seperti luputnya bangkai dimamah usia dunia.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Jika kamu boleh membuatkan kamu tidak dikenali maka lakukanlah. Apa salahnya jika kamu tidak dikenali? Apa salahnya jika kamu tidak dipuji? Apa salahnya jika kamu dikeji oleh manusia tetapi dipuji disisi Allah s.w.t?”

Apa salahnya jika kita tidak dikenali oleh manusia kerana kebolehan kita? Sedangkan ramai manusia yg terkenal dengan kehebatan mereka, tetapi mempunyai ramai pula musuhnya. Ramai juga manusia terkenal dengan kekayaannya, tetapi selalu gundah-gulana dengan hartanya. Justeru, tidakkah hidupmu lebih bahagia jika kamu tidak dikenali?

“Allah mengasihi orang-orang yg baik dan bertaqwa yang tidak dikenali. Apabila mereka hilang, orang tidak mencarinya dan apabila mereka ada, mereka tidak dipanggil dan dikenali. Hati-hati mereka adalah lampu petunjuk, mereka keluar dari setiap tanah berdebu yang gelap.”(riwayat Ibnu Majah 2/1320 no:3989).

Rahmat Allah sentiasa bersama dengan orang yg tidak mengharapakn nama dalam beramal. Lihatlah Uwais al-Qarni. Ia tidak dikenali oleh manusia disekelilingnya. Malah ia juga turut diejek dan dihina kerana penampilannya yang buruk. Namun, dia dikenali oleh Allah dan rasulNya. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya sebaik-baik generasi tabi’in adalah orang yg bernama Uwais..mintaklah dia supaya memohon keampunan (daripada Allah) untukmu” (H.R Imam Muslim, no:2542).

Sehinggakan Umar al-Khattab turut meminta Uwais supaya mendoakan keampunan untuknya (h.r Muslim). Itulah Uwais Al-Qarni, wali Allah yang sangat dikenali oleh makhluk Allah dilangit..

Ibnu mas’ud berkata:
“Jadilah kamu sumber ilmu, lampu petunjuk….kamu dikenali dikalangan ahli langit dan tidak dikenali oleh ahli bumi. “

Alangkah bahagianya apabila nama kita disebut-sebut oleh ahli langit..ketika Allah ‘Azzawajalla mencintai kita kerana amalan kita yg ikhlas lalu dipanggilNya malaikat Jibril dan kemudian diseru kepadanya, “Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia”. Jibril kemudiannya mencintainya dan berseru di langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.” Maka penghuni langit mencintainya dan ditetap penerimaan baginya di bumi. (diriwayatkan oleh Imam Malik, 3/128, Bukhari 6/303)

Bagaimana pula nasib manusia yang ingin amalanya dilihat manusia. Sila renungi hadith ini
Nabi S.A.W bersabda:
“Sesungguhnya orang pertama yang akan diadili di Hari Kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid. Kesyahidan itu didatangkan dan kemudian diperkenalkan dengan nikmat-nikmatnya, dan ia pun mengenalinya”.
Allah bertanya,”Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat tersebut?”
Si Syahid menjawab,”Aku telah berperang karenaMu sehingga aku mati syahid.”
Allah menjawab,”Kamu bohong, akan tetapi kamu berperang agar disebut pahlawan, dan kamu telah mendapatkan keinginanmu itu.”
Kemudian ia dihisab sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, sehingga akhirnya dimasukkan ke dalam neraka.
Kemudian seorang yang mempelajari ilmu, mengamalkannya, membaca Al Qur’an. Ilmu itu kemudian didatangkan kepadanya dengan nikmat nikmatnya, dan ia pun mengenalinya.
Allah bertanya,”Apa yang telah kamu lakukan?”
Si Alim menjawab,”Aku mempelajari Ilmu dan mengamalkannya, aku juga membacakan Al Qur’an untukMU.”
Allah berkata,”Kamu bohong, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar dipandang sebagai orang alim. Kamu membaca Al Qur’an agar disebut sebagai qari’ dan kamu telah mendapatkan yang kamu inginkan.”
Kemudian ia dihisab sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya, sehingga akhirnya ia pun dimasukkan ke dalam neraka.
Kemudian seorang laki laki yang telah mendapatkan kelapangan dari Allah S.W.T, dengan dikurniakan harta yang banyak. Harta itu didatangkan kepadanya dan ia pun merasakan nikmatnya.
Allah bertanya,”Apa amal perbuatanmu di dunia?”
Orang kaya itu menjawab,”Saya tidak sedikit pun meninggalkan jalan yang Engkau cintai kecuali dengan menafkahkan hartaku disana semata-mata karena Engkau.”
Allah menjawab,”Engkau telah berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut sebagai seorang dermawan, dan engkau telah mendapatkan yang engkau inginkan itu.”
Kemudian ia dihisab sesuai dengan amal perbuatannya, dan dimasukkan dalam neraka.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim (13/50-51- Nawawi), Imam NAsa’i 6/23-24, Imam Ahmad bin Hambal 2/322, dan para perawi lainnya dari hadits Abu Hurairah R.A)

Dalam hadith yg lain menyebut bahawa mereka ini diseret wajahnya sehingga dicampakkan kedalam api neraka. Wahai saudaraku, adakah kamu masih ingin menjadikan kemasyuran itu sebagai tujuan hidupmu?

Islam tidak melarang kemasyuran tetapi yang dilarang adalah melakukan sesuatu perkara semata-mata kerana ingin menjadi terkenal atau disanjung oleh manusia. Kemasyuran pada zatnya bukanlah suatu yang tercela.

Walaupun ramai dikalangan tokoh-tokoh umat Islam tidak mahu diri mereka dikenali, tetapi mereka tetap terkenal didalam sejarah. Itulah kehendak Allah terhadap hamba-hambaNya supaya mereka menjadi contoh kepada yg lain.

DOA, SOLAT DAN KEIKHLASAN

Antara faktor-faktor yang memberi kekuatan kepada seorang mukmin adalah keikhlasan, solat dan juga doa mereka. Rasulullah s.a.w bersabda:
Sesungguhnya Allah hanya menolong umat ini kerana orang-orang yang lemah diantara mereka, kerana doa mereka, solat mereka dan kerana keikhlasan mereka. (diriwayatkan oleh An-Nasai dan disahihkan oleh Al-Albani dalam sahih targhib wa tarhib)

Keikhlasan adalah merupakan penguat jiwa seorang mukmin jika ia meyakini hanya Allah sahajalah yg kekal abadi..riya’ pula adalah kekotoran yang sentiasa menghalangi manusia daripada mengingati hakikat ini.

Kita mungkin boleh berniat melakukan sesuatu kerja utk mendapatkan nama supaya manusia boleh mengenali kita, ataupun mengejar pangkat yg diidam-idamkan oleh ramai manusia. Tetapi adakah semua itu merupakan sesuatu yang kekal? NAMA, PANGKAT dan HARTA adalah sesuatu yg akan luput ditelan zaman. Manusia akan bersedih dan merasai kekecewaan yg amat sangat apabila apa yg diniatkan itu gagal dicapainya.

Namun tidak ada kekecewaan dan kesedihan bagi mereka yg mengharapkn wajah Allah dalam melakukan amal. Kerana Wajah Allah itulah yg kekal abadi…

Biarlah manusia itu tidak mengenali kita kerana amal yg kita lakukan..kerana sudah mencukupi jika Allah ‘Azzawajalla mengenali kita sebagai seorang hamba yg BERAMAL!!

Hati yang ikhlas sentiasa berharap kepada Ilah-nya. Rasa pengharapan itu dimanifestasikan pula oleh doa. Hati, lisan dan anggota badannya turut sama berdoa tanda pengharapan kepada Rabb-nya.. Wahai insan, adakah selama ini hanya tangan kamu sahaja yg berdoa? Di mana pula hatimu?

Doa itulah merupakan senjata-mu. Ketika kamu berada dalam keadaan lemah maka bacalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam senantiasa membaca doa ini, lihat kitab Fathul Baari 11/173)

Ketika kita diancam oleh musuh bacalah:

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ.
”Cukuplah Allah bagi kami. Dan Dia-lah, Tuhan yang paling tepat dipasrahi (dalam menghadapi segala urusan).” (HR. Al-Bukhari 5/172.)
Itulah merupakan diantaraa doa-doa yang diajar oleh Rasulmu ketika berada dalam keadaan yang lemah…
Rasulmu itu juga turut mengajarkanmu solat supaya ia boleh menjadi penolongmu..

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
[Surat al-Baqarah ayat 153]

Sesungguhnya keikhlasan, solat dan juga doa sentiasa bersama mukmin yang tunduk kepada Allah ‘Azzawajalla. Mukmin yang tunduk sentiasa berasa dirinya lemah dan perlu memperbaiki dirinya. Di saat itu, ia meyakini janji Allah yang sentiasa menolong hambaNya yang lemah.

AL-FAHMU

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a dari Nabi S.A.W baginda bersabda:

Semoga Allah mengangkat darjat orang yang mendengar ucapanku lalu dia memahaminya. Beberapa banyak pembawa fiqh yang tidak fakih (tidak memahami fiqh). Tiga perkara yang kerananya hati seseorang mukmin tidak akan ditimpa dengki:
1.Mengikhlaskan amal kerana Allah
2.Memberi nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin
3.Dan berpegang kepada jemaah mereka, kerana doa mereka mengelilingi mereka dari belakang mereka. (diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanadnya yang hasan)

Kefahaman atau kefakihan merupakan nikmat terbesar yang di anugerahkan oleh Allah s.w.t kepada hambanya. Tidaklah seseorang hamba itu dikatakan fakih melainkan ia benar-benar memahami ayat-ayat Allah dan kata-kata daripada rasulNya.

Rasulullah s.a.w bersabda:
Allah memperelokkan wajah orang yang mendengar satu hadith daripada kami, lalu beliau menghafalnya sehingga menyampaikannya kepada orang lain. Kemungkinan seseorang itu membawa kefahaman kepada orang yang lebih faham daripadanya dan kemungkinan orang yang membawa kefahaman bukanlah terdiri daripada orang yang faqih (fahim)…(hadith riwayat Abu Daud 3/321 dan at-Tirmizi:5/33 no 2659)

Seseorang itu mungkin boleh bergelar ‘ahli agama’ berdasarkan sijil-sijil yang diperolehinya ataupun boleh dipanggil sebagai ‘ustaz’ berdasarkan pengiktirafan masyarakat terhadapnya, tetapi mana mungkin seseorang itu boleh dianggap fakih disisi tuhannya sedangkan ilmu yang diperolehinya hanya sekadar hafalan yang tidak dihadam menjadi kefahaman.

Kelebihan seseorang hamba di sisi Rabbnya bukannya pada banyaknya penge’TAHU’an, hafalan dan ‘amalannya, tetapi kelebihan dan kemuliaan adalah disebabkan oleh kefahaman yang mendalam dan benar terhadap Al-Quran dan juga As-Sunnah.

Rasulullah s.a.w bersabda:
Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, nescaya akan dijadikannya fakih(faham) dalam agama. Sesungguhnya aku hanyalah penyampai sedangkan Allah ‘Azzawajalla yang memberi. (Muslim no:1037)

‘Seseorang faqih itu lebih ditakuti oleh syaitan berbanding seribu orang ‘abid’ (hadith riwayat At-Tirmizi:5/46 no:2681)

Seseorang itu mestilah mengutamakan kefahaman daripada penghafalan dan juga mendahulukan ilmu sebelum beramal kerana pintu kepada kefahaman itu adalah ilmu yang benar. Manakala buah kepada kefahaman dengan ilmu yang benar itu tadi adalah amalan yang diterima oleh Allah s.w.t..

Jikalau amalan yang diterima itu merupakan hasil daripada kefahaman terhadap ilmu yang benar, maka bagaimanakah pula dengan ikhlas dan juga ittiba’ (mengikuti petunjuk rasul)? Bukankah itu merupakan syarat diterimanya amalan?
Kita katakan: Bagaimana mungkin seseorang itu boleh dikatakan ikhlas sedangkan dia sendiri tidak memahami hakikat ikhlas dan juga musuhnya iaitu riya’..bagaimanakah pula seseorang itu boleh dikatakan mengikuti petunjuk rasulnya sedangkan ibadahnya pula hanya berlandaskan hawa nafsunya (tidak dengan wahyu)..dia mungkin boleh berkata bahawa Allah dan rasulNya merupakan ikutan tetapi dalam beribadah dia mungkin beramal dengan ibadah yang tidak jelas sumbernya atau diragui keasliaannya disebabkan jahil dengan sunnah Baginda s.a.w..
Justeru, bukankah kefahaman juga diperlukan untuk mengetahui hakikat ikhlas dan merawat kejahilan manusia terhadap As-Sunnah?
Oleh itu, Allah s.w.t telah memilih orang yang ikhlas dengan menjadikannya fakih dalam agamanya.

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya,nescaya Allah akan menjadikannya fakih(faham) dalam agama.(H.R Bukhari, kitab Al-Ilm, no:71)

Kefahaman itu dapat menyempurnakan keikhlasan dan juga amalan seseorang.

Berbeza pula dengan golongan yang ditutup pintu hati mereka oleh Allah s.w.t dalam memahami agamaNya. Mereka ini kuat beribadah kepada Allah s.w.t namun lemah dari sudut kefahaman. Sejarah juga telah menunjukkan kewujudan golongan ini yang telah banyak menumpahkan darah umat Islam iaitu golongan khawarij. Mereka inilah yang dijelaskan oleh nabi sebagai ‘’sejahat-jahat akhlak dan makhluk’’(H.R muslim 2/751 no:1067). Mereka kuat membaca Al-Quran, tetapi bacaan mereka itu tidak melepasi kerongkong mereka (diriwayatkan oleh Ad-Darimi dengan sanad yang sahih).

Dalam riwayat yang lain;
“Sesungguhnya dia mempunyai pengikut-pengikut yang salah seorang daripada kamu akan memandang hina solatnya kalau dibandingkan dengan solat mereka dan memandang hina puasanya kalau dibandingkan dengan puasa mereka, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka.”(Fathul Bari: 6/714 no 3610)

Sesungguhnya mereka ini mempunyai sikap ta’asub terhadap kelompok mereka sedangkan sikap ini tidak layak dimiliki oleh orang yang ikhlas dalam beramal. Mereka juga mencabut ketaatan mereka terhadap pemimpin kaum muslimin. Di dalam hati mereka ada penyakit iaitu nifak…

Tidak faqih juga merupakan tanda-tanda orang munafik. Allah s.w.t telah berfirman:
Dan apabila diturunkan satu surah, sebahagian mereka memandang kepada sebahagian yang lain (sambil berkata): “Adakah, seseorang dari (orang-orang muslim) yang melihat kamu?” sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak faqih(faham).” (At-Taubah 9:127)

Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah s.w.t ini juga memberikan penjelasan tentang karakteristik orang-orang munafik bahawa mereka jika diturunkan satu surat kepada Rasulullah s.a.w, sebahagian mereka memandang pada sebahagian yang lain atau menoleh. Maksudnya berpaling daripada kebenaran.”(Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 hal 347).

Mukmin yang fakih dalam agamanya adalah mereka yang bersih hatinya daripada sifat nifak dan hasad dengki. Kerana itulah mereka ini sentiasa mengikhlaskan amal kerana Allah, sentiasa memberi nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan selalu berpegang teguh kepada jemaah kaum muslimin.

Daripada Abu Hurairah r.a, beliau berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda: “Sesiapa yang keluar daripada ketaatan (terhadap pemerintah) dan memisahkan diri daripada al-Jama’ah jika dia mati, dia mati dalam keadaan jahiliyah. (Muslim 3/1477)
Daripada ‘Abdullah bin Umar r.a, daripada Nabi S.A.W, sabda baginda: “Dengar dan taat (kepada pemerintah) adalah kewajipan setiap individu muslim dalam perkara yang dia suka atau benci selagi dia tidak diperintahkan dalam perkara maksiat. Apabila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak perlu lagi dengar dan taat.”(riwayat Al-Bukhari jilid6/ no 2612)

Sesungguhnya Allah meredhai kamu dalam tiga perkara dan memurkai kamu dalam tiga perkara. Dia meredhai kamu beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, berpegang teguh pada tali Allah dan menasihati orang yang Allah jadikan sebagai pemerintah urusan kamu. Dia memurkai kamu jika banyak bercakap (perkara yang tidak berfaedah), membazirkan harta dan banyak bertanya(pertanyaan yang tidak memberi faedah). (riwayat Imam Malik 2/169)

Sesiapa yang ingin menasihati orang yang berkuasa, janganlah melakukannya secara terang-terangan. Sebaliknya dia hendaklah memegang tangannya(penguasa itu) dan bersendirian dengannya(menasihati tanpa mendedahkan aibnya secara terbuka). Jika diterima, maka dia Berjaya. Jika tidak, dia(penasihat itu) dianggap telah menunaikan kewajipannya (riwayat Ibn Abi ‘Asim dalam As-Sunnah dengan sanad yang hasan).

Kefahaman yang sahih merupakan cahaya yang dicampakkan oleh Allah s.w.t ke dalam hati hambaNya, menyebabkan dia boleh membezakan di antara yang sahih dan yang fasid, hak dan batil, petunjuk dan kesesatan. Oleh itu, marilah kita berusaha untuk mendapatkan kefahaman yang benar dan mendalam. Kata Muhammad Abdullah Al-Khatib, “Bersungguh-sungguhlah wahai saudaraku dalam mendapatkan kefahaman yang sejahtera dan teliti. Iaitu kefahaman yang menembusi perkara-perkara yang dalam, meletakkan setiap perkara pada tempatnya tanpa cuai dan melampau. Kefahaman yang suci murni dan syumul (Nazarat Fi Risalah Ta’lim).

KEPENTINGAN SYAHADATAIN

Syahadatain yang dimaksudkan ialah syahadat tauhid iaitu persaksian bahawa tiada yang layak mempunyai sifat ketuhanan selain Allah s.w.t dan syahadat risalah iaitu persaksian bahawa Nabi Muhammad ialah utusan Allah

1. Pintu masuk Islam
Syahadah merupakan pintu masuk kepada Islam. Seorang yang ingin memasuki Islam mestilah mengetahui bahawa tidak ada Ilah selain Allah dan menyatakan persaksiannya.

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.(47;19)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(3:18)


Pengakuan ini merupakan satu fitrah kerana manusia itu sudahpun melakukan syahadat sebelum dia lahir ke dunia lagi.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",(7:172)

Kepada mereka yang ingkar kepada perkara ini maka sesungguhnya dia telah kafir. Al-Quran telah menceritakan keadaan mereka apabila diseru dengan kalimah tauhid :

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,(37:35)


Dan tidaklah berguna segala amalan mereka walaupun sebaik manapun.

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.

Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (39:64-65)

2. Intisari ajaran Islam

Syahadatain merupakan intisari ajaran Islam. Secara globalnya Islam terdiri atas aqidah dan syari’ah. Bahagian-bahagian Islam yang lainnya terdiri daripada ibadah, akhlak, dan mu’ammalat yang merupakann implementasi kepada syahadatain ini. Syahadat tauhid mengajar kita supaya menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah yang berhak disembah dengan menolak yang selain dariNya. Allah S.W.T telah memerintahkan hamba-hambaNya bukan sahaja supaya percaya kepadaNYa, tetapi juga supaya menyembahNya.

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,(2:21)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(51:56)


Hal ini juga merupakan sebab utama diturunkan kesemua para rasul.

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".(21:25)

Syahadat risalah pula mengajar kita supaya mengikuti Rasulullah S.A.W sebagai rasul yang diutuskan kepada umat akhir zaman untuk menyampai dan menjelaskan ajaranNya. Dengan pengakuan ini setiap muslim wajib menerima dan mematuhi segala ajaran yang dibawa oleh Rasulullahh s.a.w. dengan penuh keimanan kerana pada diri baginda itu mempunyai contoh teladan yang baik.

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(33:21)

Allah s.w.t telah memerintahkan kita supaya mengikuti Rasulullah s.a.w

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(3:31)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui.

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.


3. Titik tolak perubahan
Ketika hendak membangunkan masyarakat baru ditengah-tengah suasana jahiliyah, Rasulullah S.A.W tidak mengawal perubahan itu dari sudut politik, ekonomi atau yang sepertinya, tetapi baginda mengawalnya dengan merubah apa yang ada di dalam jiwa iaitu akidah. Dengan syahadatain ini, yang mengajar kita tentang konsep asas aqidah dan asas syari’ah, maka terjadilah perubahan yang besar dalam seluruh aspek kehidupan generasi sahabat. Bangsa yang lemah dan mundur ini akhirnya menjadi satu bangsa yang terbaik yang diutuskan kepada seluruh umat manusia. Mereka berhijrah dari kegelapan jahiliyah menuju kepada sinar Islam yang terang-menderang.

Dan apakah orang yang sudah mati .Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.(6:122)

4. Hakikat dakwah para rasul

Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : "Sesungguhnya Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan Aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami Hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan Hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan Hanya kepada Engkaulah kami kembali."(60:4)

5. Keutamaan yang besar
Terdapat banyak fadhilah dan keutamaan yang terkandung dalam syahdatain sebagaimana yang terdapat dalam AlQuran dan As-Sunnah.
Ganjaran dapat berupa material ataupun moral. Misalnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat, rezeki yang halal dan keutamaan lainnya

Keutamaan ini selalu dikaitkan dengan aplikasi dan implikasi syahadah dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dielakkan kita dari segala macam kesakitan dan keseksaan di dunia ataupun di akhirat.

IMAN DAN IKHLAS

Dari Abu Firas

Seorang lelaki menyeru sambil berkata,”Ya Rasulullah,apa itu iman?

Baginda bersabda,’ikhlas’.

Dalam lafaz yang lain

Bertanyalah kepadaku apa yang kalian mau. Lalu seorang lelaki berseru, “Ya Rasulullah! Apa itu Islam? Lalu baginda bersabda, mendirikan solat dan membayar zakat..lelaki itu berkata lagi: apa itu Iman? Baginda menjawab:’ ikhlas’. Apa pula makna yakin itu? Baginda menjawab, “membenarkan”. (diriwayatkan oleh Baihaqi secara mursal dan di sahihkan oleh Al-albani)

Begitulah betapa besarnya kedudukan ikhlas itu sehingga baginda s.a.w mengaitkannya dengan iman..
tidak ada iman bagi orang yang tidak ikhlas..
tidak ada iman bagi orang tidak menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya..
tidak dinamakan orang yang beriman bagi mereka yang mensyirikkan Allah dalam melakukan ibadah kepadanya..

HAASIBU ANFUSAKUM QOBLA AN TUHAASABU

Assalamualaikum,
kepada ikhwah dan akhawat,
satu ayat quran yang bermaksud:

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati Karena takut akan (azab) Tuhan mereka,Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”
(Surah mukminun ayat 57-61)

Sememangnya manusia itu sering lupa dan alpa...dan orang mukmin itu pula tidak akan mengulangi kesilapan yang sama berulang kali..
Tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama..
Antara ciri orang mukmin seperti yang disebutkan dalam ayat di atas adalah mereka bersegera mengejar kebaikan..
Bagaimanakah kita mahu menghukum diri kita jika kita tidak ada ciri-ciri ini: "yang mengejar kebaikan"?
Tepuk dada tanya iman kita..
Bermuhasabahlah sahabat-sahabatku....
Moga kita menjadi orang yang lebih terkedepan...
insyaALLAH......
salam ukhuwwah
wassalam

RAF’UL MALAM ANI A’IMMATIL A’LAM

Jun 24, '08 10:58 PM for everyone
Raf’ul Malam Ani A’immatil A’lam
Menolak Celaan Terhadap Ulamak Terbilang
Terjemahan Dan Ringkasan Karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Bahagian 1

Menjadi kewajipan kepada orang Islam setelah memberi wala’ kepada Allah dan Rasul memberi wala’ kepada orang-orang yang beriman khususnya para ulamak. Semua umat sebelum umat Islam ulamak mereka adalah orang yang paling jahat dikalangan mereka berlainan sama sekali dengan umat Islam kerana ulamaknya mendirikan ajaran Al-Quran dan menghidupkan Sunnah Nabinya.

Hendaklah diketahui bahawa tiada seorang ulamak pun yang diterima secara umum oleh umat Islam sengaja melanggar sunnah Nabi s.a.w samada yang kecil ataupun yang besar, kerana mereka telah bersepakat wajib mengikut sunnah Nabi s.a.w, dan jika berlaku perkara tersebut maka sudah pasti di sana ada keuzuran yang menyebabkan perkara itu berlaku.
Keseluruan keuzuran itu terbahagi kepada 3 perkara:

Pertama : Dia berpendapat hadis itu tidak sabit dari Nabi s.a.w.
Kedua : Dia berpendapat bukan itu maksud yang dikehendaki dari hadis itu.
Ketiga : Dia berpendapat hadis itu telah dimansukhkan.

Ketiga-tiga sebab ini terbahagi pula kepada sebab-sebab yang pelbagai.

Sebab yang pertama:
Hadis tersebut tidak sampai kepadanya, dan barangsiapa yang tidak sampai kepadanya hadis, dia tidak diwajibkan beramal dengan hadis tersebut, dan dia mungkin memberi fatwa dalam masalah tersebut berpandukan kepada dalil yang lain yang kemungkinan bertepatan dengan hadis atau berlawanan denganya.

Sebab ini merupakan sebab yang paling utama berlaku percangahan pendapat ulamak salaf dengan hadis, kerana tiada seorang pun dikalangnan ulamak yang mengetahui semua hadis.
Nabi s.a.w apabila baginda mengajar kepada sahabat tidak semua yang hadir, jadi hadis yang diriwayatkan pada ketika itu tidak sampai kepada sahabat yang tidak hadir. Sehinggakan Khulafa’ Rasyidin yang paling hampir dengan Nabi s.a.w sendiri pun terlepas dari mengetahui sebahagian hadis Nabi s.a.w, sebagimana yang berlaku kepada Saidina Abu Bakar ketika ditanya mengenai harta pusaka bagi nenek beliau mengatakan dia tidak tahu dan dia akan bertanya kepada orang ramai lalu Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Maslamah bangun menyatakan bahawa Nabi s.a.w memberi kepada nenek 1/6.

Barangsiapa yang bependapat bahawa semua atau seorang imam tertentu mengetahui semua hadis yang sahih dari Nabi s.a.w maka dia telah melakukan kesilapan yang besar.

Jangan kita katakan bahawa masalah hadis tidak sampai tidak timbul kerana hadis telah dibukukan kerana pembukuan hadis secara menyeluruh itu datang selepas berlalunya zaman imam-imam mujtahid yang diikuti orang. Kita juga tidak boleh mendakwa yang kesemua hadis Nabi s.a.w ialah khusus kepada apa yang sudah termaktub di dalam buku dan kitab kerana kemungkinan ada hadis yang terlepas dari ditulis. Begitu juga kita tidak boleh mengatakan barangsiapa yang tidak mengetahui semua hadis Nabi s.a.w. tidak boleh menjadi mujtahid kerana jika begitu nescaya tiada seorang pun yang layak menjadi mujtahid, akan tetapi seorang mujtahid itu hendaklah dia mengetahui kebanyakan hadis.

Sebab yang Kedua:
Suatu hadis itu telah sampai kepadanya tetapi hadis itu tidak sabit di sisinya. Seperti suatu hadis itu diriwayatkan oleh orang yang tidak dkenal pasti identitinya ataupun majruh yang kemungkinan hadis tersebut sampai kepada orang lain dengan sanad dan perawi yang baik tetapi sampai kepadanya dengan sanad dan perawi yang tidak baik.

Sebab Yang ketiga:
Dia berpendapat hadis yang sampai kepadanya dhoif berdasarkan ijtihadnya yang kemungkinan ulamak lain tidak sependapat dengannya dalam masalah tersebut, dan dalam masalah ini ada beberapa sebab antaranya:

Perawi hadis itu dhoif di sisi sebahagian ulamak dan thiqah pda pandangan ulamak yang lain dan ini perkara yang luas perbahasannya dikalangan ulamak dalam ilmu rijal.
Ulamak itu berpendapat perawi hadis itu tidak mendengar sendiri daripada orang yang meriwayatkan hadis tersebut dan ulamak yang lain berpendapat sebaliknya.

Antaranya lagi ramai ulamak Hijaz berpendapat hadis yang diriwayatkan oleh orang Iraq atau Syam tidak boleh dijadikan hujjah jika asalnya bukan dari Hijaz sehingga berkata salah seorang dari mereka:
( Jadikan hadis ahli Iraq setaraf dengan hadis ahli kitab. Jangan kamu mempercayainya dan jangan kamu mendustakannya).
Kerana ahli Hijaz berpendapat merekalah yang menghimpunkan sunnah dan tidak terlepas dari mereka satu hadis pun.

Sebab Yang Keempat:
Mereka mensyaratkan bagi hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang adil lagi hafiz syarat tambahan yang tidak sama dengan ulamak-ulamak lain.Seperti sebahagian mereka mensyaratkan hadis tersebut hendaklah diukur dengan Al-Quran dan Sunnah terlebih dahulu dan sebagianya.

Sebab Yang kelima:
Suatu hadis itu telah sampai kepadanya dan sabit disinya tetapi dia terlupa mengenai hadis tersebut. Perkara ini berlaku juga kepada Al-Quran. Sebagaimana yang berlaku kepada Saidina Umar ketika dia menegah mahar wanita lebih mahal dari mahar isteri dan anak perempuan Nabi s.a.w. kemudian apabila ditegur oleh seorang wanita dengan ayat Al-Quran yang tidak menghalang perkara tersebut lalu beliau mengakuinya.

Sebab Yang keenam:
Seorang ulamak itu tidak mengetahui dilalah dan maksud hadis . Seperti lafaz hadis itu pelik disisinya seperti perkataan "muzabanah","muhalaqah" dan sebagainya. Ataupun dia memahami makna hadis itu berpandukan kepada bahasa dan urufnya yang tidak sama dengan bahasa dan uruf Nabi s.a.w., ataupun lafaz hadis itu mempunyai banyak makna yang bersekutu di dalamnya.

Sebab yang Ketujuh:
Dia berpendapat tiada dilalah atau tidak maksud yang menunjukkan kepada suatu hukum dalam hadis tersebut samada pendapat dia itu betul atau salah. Seperti dia berpendapat lafaz umum yang dikhususkan tidak menjadi hujjah, ataupun suruhan semata-mata tidak menunjukan perkara itu wajib dan sebagainya yang luas perbahasannya.

Sebab yang kelapan:
Dia berpendapat bahawa dilalah atau maksud hadis itu berlawanan dengan dalil yang lain yang menunjukkan bukan itu maksud yang dikehendaki dari hadis tersebut. Seperti lafaz umum yang berlawanan dengan khas ataupun lafaz hakikat yang dikehendaki makna majaznya.

Sebab yang kesembilan:
Dia berpendapat di sana adanya perkara atau dalil yang berlawanan dengan hadis yang menunjukkan hadis itu 1. Lemah, 2. Mansukh atau 3. boleh ditakwil dengan maksud yang lain seperti di sana ada ayat Al-Quran, hadis atau ijmak yang menunjukkan perkara tersebut dan perkara ini ada dua jenis :

Yang pertama: Samada dia berpendapat adanya perkara yang lebih rajih berlawanan dengan hadis daripada ketiga-tiga perkara tersebut tanpa dia menentukan salah satu darinya.

Yang kedua: Ataupun dia menentukan salah satu dalil yang berlawanan dengan hadis daripada ketiga-tiga perkara tersebut kemudian kemungkinan dia tersilap dalam penentuannya seperti dia berpendapat hadis itu mansukh sedangkan hadis tersebut adalah terkemudian daripada hadis yang berlawanan dengannya ataupun dia mentakwil hadis itu dengan maksud yang tidak boleh diterima.

Sebab yang kesepuluh:
Pertembungan hadis dengan perkara yang menunjukkan hadis itu lemah, mansukh atau boleh ditakwil dengan makna yang lain yang mana ulamak lain tidak berpendapat sebegitu ataupun mereka tidak berpendapat perkara tersebut adalah suatu pertembungan antara hadis dengan perkara yang dianggap berlawanan dengannya ataunpun perkara yang berlawanan dengan hadis itu bukanlah perkara yang rajih sehingga dapat menolak beramal dengan hadis tersebut.

Seperti ramai dari kalangan ulamak Kufah yang menolak hadis sahih kerana pada mereka hadis tersebut berlawanan dengan zahir Al-Quran dan pada pandangan mereka zahir Al-Quran mesti didahulukan daripada nas hadis dan kadang-kadang mereka mengatakan suatu ayat itu adalah zahir Al-Quran sedangkan ianya bukan begitu bahkan ulamak lain berpendapat hadis dan Sunnah adalah tafsiran kepada Al-Quran dan tiada pertembungan antara zahir Al-Quran dengan hadis.

SATU FASAL
Dalam banyak masalah meninggalkan dari beramal dengan hadis, boleh jadi di sana bagi seorang ulamak itu ada hujjah tersendiri dalam melakukan perkara tersebut yang kita tidak mengetahuinya kerana ilmu itu luas dan kita tidak mengetahui semua ilmu yang ada di dalam dada ulamak. Seorang ulamak itu pula kadang-kadang beliau menjelaskan hujjahnya dalam melakukan perkara tersebut dan kadang-kadang tidak dan jika beliau menjelaskannya kemungkinan penjelasan itu sampai kepada kita dan kemungkinan tidak samada penjelasan itu tepat ataupun tidak, betul ataupun salah.

Walaupun perkara yang telah kita sebutkan sebelum ini boleh berlaku, tetapi kita tidak boleh berpaling dari beramal dengan pendapat sebahagian ulamak yang jelas hujjahnya lagi bertepatan dengan hadis sahih kerana hendak mengikut pendapat ulamak lain yang tidak jelas hujjahnya walaupun dia lebih alim dan di sana mungkin dia ada hujjah tersendiri dalam menolak hadis tersebut. Kerana kesalahan itu boleh terjadi kepada pendapat ulamak dan tidak kepada dalil syar’ie selagi mana dalil tersebut tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat.

Jika sekiranya meninggalkan beramal dari sebahagian hadis boleh berlaku kerana sebab-sebab yang telah disebutkan, maka apabila datangnya hadis sahih yang padanya ada hukum halal dan haram tidak boleh sama sekali kita beriktikad bahawa ulamak yang meninggalkan hadis tersebut kerana sebab-sebab tertentu telah menghalalkan perkara yang haram dan mengharamkan perkara yang halal.

Begitu juga jika sekiranya dalam suatu hadis itu ada menjanjikan azab bagi orang yang membuat suatu perkara ataunpun melaknat mereka yang melakukannya maka tidak boleh kita mengatakan kepada seorang alim yang mengharuskannya atau melakukannya termasuk di dalam laknat dan azab tersebut, dan perkara ini tiada khilaf di kalangan umat ini kecuali sebahagian Muktazilah yang berpendapat seorang mujtahid yang tersilap dalam ijtihadnya dikira berdosa akan tetapi perkara ini jelas berlawanan dengan hadis Bukhari dan Muslim yang mana Nabi s.a.w bersabda :( Apabila seorang hakim itu berijtihad lalu betul ijtihadnya maka dia mendapat dua pahala, dan apabila dia berijtihad lalu dia tersilap maka dia mendapat satu pahala). Maka jelas bahawa seorang hakim yang berijtihad itu walaupun dia tersilap mendapat satu pahala di atas usaha ijtihadnya dan kesilapanya dimaafkan kerana hendak mencapai kebenaran dalam semua hukum yang diijtihad adalah mustahil ataupun hampir mustahil.

Di dalam riwayat Bukhari dan Muslim Nabi s.a.w bersabda kepada sahabatnya pada tahun perang Khandak : ( Jangan ada orang yang bersembahyang Asar kecuali apabila dia sampai di tempat Bani Quraizhoh ). Lalu masuk waktu Asar di pertengahan jalan dan sebahagian mereka bersembahyang di situ juga sebelum sampai dan sebahagian yang lain tidak mahu sembahyang kecuali di tempat Bani Quraizhoh dan Nabi s.a.w tidak menyalahkan mana-mana pihak.

Kumpulan yang pertama berpendapat maksud hadis Nabi s.a.w ialah supaya mereka bergerak dengan cepat dan bukan mesti solat Asar di Bani Quraizhoh walaupun terlepas waktu. Kumpulan kedua pula berpegang dengan nas yang umum, dan dari perkara tersebut berlaku khilaf di kalangan ulamak adakah nas yang umum boleh dikhususkan dengan qias? Walaubagaimanapun kumpulan pertama adalah lebih tepat ijtihad mereka.

Akan tetapi perkara ini tidak sama dengan orang yang memberi fatwa kepada seorang yang luka kepalanya di musim sejuk dengan mereka mengatakan dia wajib mandi dari junub walaupun kepalanya luka lalu mati orang tersebut dan Nabi s.a.w mencela orang yang memberi fatwa itu kerana mereka telah tersilap dalam ijtihad sedangkan mereka bukan dari kalangan ahli ilmu dan ulamak.

Syarat yang menentukan seseorang itu termasuk dari kalangan orang yang mendapat seksa jika meninggalkan hadis tidak perlu disebutkan di semua tempat dan keadaan kerana ianya adalah perkara yang diketahui umum.

Begitu juga ganjaran pahala bagi bagi orang yang beramal mestilah memenuhi syarat ikhlas kepada Allah dan tidak musnah amalan mereka dengan murtad dan kedua syarat ini tidaklah disebut di dalam semua hadis yang menjanjikan ganjaran pahala bagi orang yang beramal. Kemudian jika kita jangkakan juga adanya perkara yang boleh menyebabkan seseorang itu termasuk dari kalangan orang yang mendapat seksa dalam meninggalkan dari beramal dengan sesuatu hadis, seseorang itu boleh terlepas dari seksa disebabkan beberapa halangan antaranya :
1. Taubat
2. Istighfar
3. Perbuatan baik yang menghapuskan amalan yang jahat
4. Musibah kehidupan dunia yang menghapuskan dosa
5. Mendapat syafaat dari orang yang boleh memberi syafaat
6. Rahmat daripada Allah Ta’ala.

Apabila tiada salah satu pun halangan yang boleh menyelamatkan seseorang itu dari azab maka barulah seseorang itu mendapat azab yang dijanjikan.
Kesimpulan bagi masalah orang yang meninggalkan dari beramal dengan sesuatu hadis ialah mereka ini terbahagi kepada tiga bahagian :

1. Samada perbuatan mereka itu harus dengan ijmak kaum Muslimin, seperti hadis itu tidak sampai kepada mereka setelah mereka berusaha mencarinya dan dalam masa yang sama mereka berhajat kepada fatwa dan tidak dapat lari dari berijtihad.

2. Ataupun perbuatan meninggalkan hadis itu salah sama sekali, dan perkara ini boleh dikatakan tidak berlaku di kalangan imam-imam mujtahid insyaAllah.

3. Akan tetapi perkara yang kita takuti pada sebahagian ulamak ialah, mereka cuai atau tidak berusaha sepenuhnya dalam berijtihad lalu mereka mengeluarkan fatwa walaupun mereka ada hujjah tertentu dalam masalah yang diijtihad tersebut. Oleh kerana itu para ulamak sangat takut kepada perkara seperti ini kerana bimbang ijtihad yang sesuai dan muktabar tidak wujud dalam masalah tersebut.

Perbuatan seperti ini adalah berdosa, akan tetapi azab yang dijanjikan bagi dosa seperti ini terkena kepada orang yang tidak bertaubat, dan ianya boleh terhapus dengan istighfar, perbuatan yang baik, musibah, syafa’at dan rahmat dari Allah Ta’ala.

KEBANGKITAN GERAKAN ISLAM: DARI MASA TRANSISI MENUJU KEMATANGAN

Tajuk asal: al-Shahwah al-Islamiyyah min al-Murahiqah ila al-Rusyd.
Penulis: Syaikh Yusuf al-Qaradhawi.
Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta 2003.
Pengedar: Pustaka Indonesia (03-2692 3940, 03-2698 1742)
Harga: RM 43.80 (6.25 by 9.5 inci, 430 ms).

Setiap insan di dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan pasti akan melalui beberapa peringkat hidup bermula daripada bayi kepada kanak-kanak, remaja sehinggalah dewasa. Setiap peringkat ini memiliki ciri-cirinya yang tersendiri. Bayi sentiasa perlukan penjagaan, kanak-kanak asyik bermain, remaja sentiasa bersemangat manakala dewasa bersifat matang lagi cermat.

Demikianlah juga dengan gerakan kebangkitan Islam mutakhir ini. Alhamdulillah, gerakan ini kini sudah mula kelihatan dan dirasai di seluruh pelusuk dunia, sama ada di negara yang majoritinya Islam atau bukan Islam. Akan tetapi jika dianalisa dengan mendalam, boleh dikatakan bahawa gerakan kebangkitan ini lebih memiliki ciri-ciri bersemangat daripada berilmu, bersifat terburu-buru daripada bertenang, bersifat cuai daripada cermat dan bersifat baru daripada matang. Dalam ertikata lain, gerakan kebangkitan Islam mutakhir ini lebih mirip kepada ciri-ciri remaja yang dalam perjalanan menuju kedewasaan.

Inilah analisa Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dan di atas analisa inilah beliau menulis buku yang khas bertujuan membimbing gerakan kebangkitan yang bersifat remaja ini ke arah kedewasaan yang sepenuhnya. Dalam bimbingannya ini Syaikh al-Qaradhawi telah menggariskan sepuluh poin utama, iaitu:

Pertama: Beralih daripada format dan simbol kepada hakikat dan kandungan. Pada zahirnya kelihatan gerakan kebangkitan Islam hanya menumpukan perhatian kepada perkara-perkara yang mencorakkan simbol dan meninggalkan isi kandungannya yang jauh lebih penting. Umpama seseorang yang selalu membesar-besarkan kedudukan jari telunjuk di dalam bacaan tasyahud solat tetapi di waktu yang sama meninggalkan perbincangan tentang sebab, tujuan dan kepentingan tuntutan solat itu sendiri secara keseluruhannya.

Kedua: Beralih daripada perdebatan kepada perbuatan. Sebahagian gerakan Islam gemar membakar tenaga mengungkit kesalahan dan kelemahan gerakan yang lain. Di waktu yang sama gerakan itu sendiri tidak berbuat apa-apa yang bermanfaat secara menyeluruh kepada Islam dan umatnya. Sikap sebegini perlu berubah. Tenaga dan masa seharusnya dibakar demi manfaat Islam dan umatnya manakala apa-apa kelemahan atau kesalahan gerakan lain seharusnya dibetulkan secara positif.

Ketiga: Beralih daripada sikap emosional kepada sikap ilmiah. Kerana semangat yang berlandaskan emosi tanpa kematangan yang berlandaskan ilmu, didapati sebahagian gerakan Islam cenderungkan mengkritik, melabel dan menghukum sesama umat Islam tanpa berlandaskan ilmu yang sebenar. Bahkan di dalam tindakan itu sendiri jelas terserlah sifat-sifat kejahilan yang keamatan. Sikap sebegini perlu berubah, seharusnya semangat itu didirikan di atas ilmu atau sekurang-kurangnya selari dengan tahap ilmu.

Keempat: Beralih daripada sikap menumpukan perhatian dalam masalah cabang kepada masalah pokok. Seringkali gerakan Islam menumpukan perhatian hanya kepada masalah cabang, seperti membaca Basmalah dengan kuat atau perlahan di dalam solat berjamaah tetapi diwaktu yang sama meninggalkan masalah pokok, seperti orang yang yang tidak bersolat jamaah langsung. Seharusnya gerakan Islam memberi tumpuan yang mendalam kepada masalah pokok dan bersikap toleran dalam masalah cabang. Apa guna mengukuhkan cabang jika pokoknya sendiri amat lemah?

Kelima: Beralih daripada sikap menyulitkan kepada sikap memudahkan. Islam adalah agama yang sentiasa berciri-cirikan kemudahan. Akan tetapi sayang sekali sebahagian gerakan Islam memiliki ciri-ciri menyulitkan sehingga menyebabkan banyak orang menjauhi Islam, umpama mereka ada yang memaksa seseorang yang baru hendak memeluk Islam dengan amalan bersunat padahal amalan ini bukanlah sepatutnya menjadi agenda pertama di dalam dakwah kepada kaum bukan Islam.

Keenam: Beralih daripada sikap jumud dan taklid kepada sikap ijtihad dan pembaharuan. Di antara gerakan Islam masih ada yang berpendapat bahawa pintu-pintu ijtihad telah ditutup dan pembaharuan hukum Islam adalah tidak perlu. Mereka memaksa umat Islam untuk bertaklid kepada mazhab-mazhab tertentu sahaja dan apa-apa perkembangan terbaru dalam tamadun manusia adalah sesuatu yang harus ditinggalkan kerana ia, kononnya, tidak dirangkumi oleh syari‘at Islam. Sikap negatif seperti ini perlu diubah, pertama kerana para imam mazhab sendiri tidak memaksa umat Islam untuk bertaklid kepada mazhab mereka dan kedua, para imam mazhab sendiri berubah-ubah fatwa mereka selari dengan peredaran zaman dan tamadun semasa kehidupan mereka sendiri.

Ketujuh: Beralih daripada sikap Eksklusif kepada sikap Inklusif. Eksklusif ialah sikap mengunggulkan diri sendiri dan menyisihkan orang lain manakala Inklusif ialah sikap merendahkan diri sendiri agar sama rata mencakupi semua orang. Malang sekali sikap eksklusif, yang mirip kepada sifat Iblis yang enggan bersujud kepada Adam alaihi salam, telah menjadi ciri-ciri sebahagian gerakan Islam. Masing-masing mengunggulkan gerakan sendiri sehingga akhirnya menjadilah gerakan Islam sesuatu yang berpisah-pisah. Seharusnya sifat eksklusif ini dikikis dan diterapkan sikap inklusif yang berciri-cirikan jamaah dan kerjasama.

Kelapan: Beralih daripada sikap berlebih-lebihan kepada sikap bersederhana. Islam adalah agama pertengahan, apa yang berpisah daripada pertengahan ini disebut sebagai berlebih-lebihan (Ghuluw). Agama pertengahan ini tidak condong ke sikap remeh dan tidak juga condong kepada sikap fanatik. Sayang sekali ada di antara gerakan Islam yang condong ke arah meremehkan syari‘at Islam sepertimana aliran liberalisme. Ada juga yang condong ke arah berlebih-lebihan seperti aliran fanatisme. Yang benar gerakan Islam harus berada di antara kedua-duannya kerana ini jalan yang lurus yang akan menghasilkan kejayaan sebenar.

Kesembilan: Beralih daripada sikap berkeras kepada sikap berhikmah. Sebahagian gerakan Islam, kerana sikap putus asa telah beralih daripada manhaj dakwah dengan hikmah kepada manhaj kekerasan dengan senjata. Mereka membunuh jiwa dan melakukan kerosakan harta benda yang akhirnya hanya akan menggagalkan secara keseluruhan usaha kebangkitan Islam. Seharusnya gerakan Islam memiliki sifat sabar dan bertahap-tahap. Tidak boleh menanam benih di pagi hari dan mengharapkan buahnya di petang hari.

Kesepuluh: Beralih daripada pertelingkahan kepada persatuan. Antara faktor utama yang menghalang kejayaan gerakan Islam mutakhir ialah pertelingkahan sesama gerakan atas hal-hal khilaf dan dzanni (hukum yang samar-samar). Padahal syari‘at Islam mewajibkan umatnya sesuatu yang disebaliknya, iaitu bersatu dan jangan berpecah. Selagi gerakan Islam berpecah dan bertelingkah, selagi itulah kejayaan menjauhi tangan umat Islam.

Demikian sepuluh poin utama yang digariskan oleh Syaikh al-Qaradhawi kepada gerakan Islam mutakhir tanpa khusus kepada mana-mana aliran tertentu. Di dalam memberi poin-poin di atas, Syaikh al-Qaradhawi telah menegur secara positif beberapa aliran Islam mutakhir yang masyhur seperti Jamaah Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Jamaah Jihadi, Jamaah Wahabiyyah, Jamaah al-Albaniyyun, Jamaah al-Jamiyyun (pengikut Syaikh Rabi’ al-Madkhali), Jamaah Syururiyyun, Jamaah Ikhwan al-Muslimun, Jamaah Sufisme dan tareqat-tereqat mereka dan pelbagai lagi.

Buku ini sangat dianjurkan kerana gerakan kebangkitan Islam di Malaysia juga tidak lepas daripada pelbagai kelemahan dan kekurangan sepertimana yang digariskan oleh Syaikh al-Qaradhawi. Gerakan kebangkitan Islam di Malaysia masih berada di tahap remaja dan sangat-sangat memerlukan bimbingan untuk mencapai tahap dewasa secepat agar segala misi perjuangan mereka dapat membuahkan hasil sebaik mungkin